Senin, 03 Juli 2017

Langkahku Menuju SMK N 1 Banyumas

Selamat siang sobat...
Apa kabar buat hari ini? Semoga  sobat semua dimanapun berada selalu diberi kesehatan dan nikmat yang indah. Buat hari ini ada yang baru loh! Nggak Cuma baru, malah begitu menarik dan menginspirasi hati sobat. Hemmm.... Apa yah?  Anu apa yah?  Aduhhh lama-lama jadi bikin penasaran.

Yups!  Jadi disini diblog yang saya cintai aku mau cerita kisah hidupku dengan judul “Langkahku Menuju SMK N 1 Banyumas”.Mungkin dihati sobat semua ada yang bertanya-tanya kenapa kok Si Penulis cerita tentang “Langkahku Menuju SMK N 1 Banyumas”? Jawabnya karena perjalanannya begitu menarik ada suka dan duka yang dirasakan. Saya harap si kisah ini dapat menginspirasi pembaca, orang-orang di sekitar, atau adik kelas.
Sebelumnya kita kenalan dulu yuk... My name is Rastiani. Biasa dipanggil Rasti, hobiku membaca, menulis, dan mendengarkan musik. Usiaku saat ini 16 tahun.

Yuk langsung aja read kisahnya...

Langkahku Menuju SMK N 1 Banyumas

Ketika itu aku masih duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama) tepatnya di kelas 8.Saat itu para siswa-siswi diberi tugas oleh Guru BK untuk membuat deskripsi sekolah yang diimpikan. Dengan sumringahnya diriku mengerjakan tugas tersebut. Angan-anganku sudah begitu indahnya, telah tersirat disecarik kertas dengan olesan tinta hitam. Disitu diriku telah menentukan impianku yaitu ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tepatnya di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Banyumas.

Aku memilih sekolah tersebut karena sekolahnya terkenal bagus, tempatnya luas dihiasi pepohonan rindang, letaknya strategis, dan memiliki macam-macam jurusan bagi para peminatnya. Selain itu, yang paling aku suka adalah jarak dari rumah ke sekolah ini tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat (kurang lebih 8 Km).
Diriku pun langsung konsultasi dengan orang tua di rumah. Aku pun bercerita kepada Ayah dan Ibu tentang sekolah impianku. Impian bagiku adalah suatu keinginan yang harus dicapai dan di dalam mimpi itu ada sebuah anak angan-angan yang selalu mengikuti kemanapun aku berada. Namun Tuhan berkata lain, orang tuaku hanya memberikan 2 sekolah pilihannya. Diri ini betul-betul tak tertarik dengan sekolah yang dipilihkan orang tua.

Raja bimbang pun mulai menghampiri diriku. Hari semakin pagi semakin siang semakin terang, namun hatiku semakin bimbang semakin kelam semakin muram. Disitulah muncul sebuah titik pengharapan. Sejak itu aku lebih mendekatkan diri kepada yang diatas.  Sujud dan doa selalu kupanjatkan. Lebih sabar aku lakukan, dengan harap agar diperbolehkan untuk menuntut ilmu ditempat impian.
Bersyukurlah aku, bahagianya diriku bagaikan durian runtuh. Doaku dikabulkan Tuhan. Aku diperbolehkan untuk mendaftarkan diri di SMK N 1 Banyumas. Disana aku memilih jurusan Administrasi Perkantoran dengan harapan bisa kerja kantoran setelah lulus. Namun sayangnya aku tak diterima dijurusan itu. Entahlah mengapa, akhirnya kupilih jurusan Pemasaran sebagai pilihan keduaku.

Dengan penuh keyakinan, aku pasti akan sukses di Jurusan Pemasaran.
Tantangan besar menghadangku lagi. Ayahku sangat tidak suka dengan apa yang kupilih. Telinga kanan kiriku sudah sangat panas mendengar ucapan Sang Ayah. Perdebatan pun terjadi antara aku dan Ayah karena persepsi yang berbeda.

Ayah : “Ayah enggak setuju kalau kamu sekolah di jurusan Pemasaran! “
Aku   : “Enggak bisa! Aku tetep pengin sekolah Disana. Aku yakin akan sukses di jurusan yang aku pilih”.
Ayah : “Kamu enggak boleh sekolah disitu!  Dan Ayah pengin kamu daftar di sekolah lain, kamu harus masuk di jurusan kesehatan! “
Aku   : “Aku tetep enggak mau! Aku udah terlanjur daftar  disana, ntar kalau pindah jadi ribet cabut berkas. Ngantri! “
Ayah : “Pokoknya besok pagi juga kamu berangkat gasik sama Ibu buat cabut berkas! Cari sekolah yang mengampu jurusan kesehatan. Mau farmasi kek, keperawatan kek, atau apa terserah kamu.”
Aku   :”Tapi sekolah disitu biayanya mahal”.
Ayah :”Enggak ada kata mahal!  Yang penting Ayah bisa cari uang, sekolah dimana-mana itu sama mahalnya!”
Aku   :”Owh”.

Ya seperti itulah perkataannya, aku tak bisa mengelak lagi karena Ayah sudah sangat emosinya. Ayah memaksaku untuk masuk ke jurusan yang tak kusukai. Mau bagaimana lagi diriku harus menerima keadaan. Mata ini berkaca-kaca, mbrambang mrebes mili. Rasanya kepikiran terus. Lagi mandi pun aku tak tenang sampai menangis-nangis lagi. Butiran air mata ini sungguh tak bisa dibendung. Keadaan ini benar-benar membuatku galau abis.
Waktu itu aku anggap saja takdir, dalam batinku mungkin ini yang terbaik demi diriku berbakti kepada orang tua. Kata orang suksesnya kita ada pada orang tua. Ucapan orang tua itu doa dan bermakna.

 Pagi-pagi pun aku berangkat bersama Ibu untuk mencabut berkas. Saat itu berbarengan dengan Pengumuman tidak diterimanya siswa. Aku pun melihat ke papan pengumuman. Arah mataku tertuju pada namaku. Aku diterima disekolah ini, senangnya diriku. Oh iya aku jadi teringat, tujuanku kesini kan mau cabut berkas. Aku pun menemui panitia pendaftarannya, namun sang panitia menjawab pertanyaanku dengan santainya “Nanti ya... “
Ibuku menemui guru yang ada disana dan berbincang-bincang seputar jurusan yang kupilih. Guru tersebut pun memberikan solusi dengan senang hati. Akhirnya, aku enggak jadi cabut berkas. Alhamdulillah! Senangnya polllll. Doaku ternyata tak sia-sia, impianku untuk sekolah di SMK N 1 Banyumas telah terwujud.

Wah gimana sobat dengan kisah diatas?
Terharu kah ? Atau sedih campur seneng?  Heheee, inget ya aku nangisnya diem-diem kagak pake suara. Malu laaaah kalau pake suara, he he.

Jadi, dari sederet kisah diatas sobat bisa memetik hikmahnya loh. Diantaranya :

  • Bermimpilah sesuai keinginanmu walau penuh tantangan. Jadi sobat jangan menyerah walau rintangan menghadang. Rintangan dapat ditendang dengan usaha dan doa. Tapi jangan bangga kalau rintangan yang ada sudah bisa dilenyapkan karena rintangan-rintangan selanjutnya pasti akan datang kembali. Tantangan tidak cukup sekali dua kali. Sesungguhnya rintangan akan membawa sobat ke pintu kesuksesan. 
  • Dekatkanlah diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Jadi maksudnya sobat harus rajin beribadah sesuai agama masing-masing. Jangan berhenti berdoa sebelum keinginan terkabul. Sesungguhnya Tuhan Maha Pemberi karena sayang dengan umatnya. 
  • Berbaktilah kepada Orang Tua kita. Coba sobat bayangkan, seberapa besar pengorbanan Ayah dan Ibu untuk anaknya? Pengorbanan mereka sungguh besarnya tak ternilai. Mereka rela membanting tulang demi anaknya, karena tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya sukses. 

Terima kasih sobat! Sudah membaca kisahku, semoga bermanfaat. Saya sebagai penulis juga minta doanya ya, “Semoga segala keinginan yang kupilih dapat terwujud “.Minta maaf dariku jika ada perkataan yang kurang berkenan dihati sobat. Jangan lupa komentarnya ya!